Hendri Budiman Hadirkan Masker Fashion Khas Jogjakarta

344
Hendri-Budiman-Hadirkan-Maske- Fashion-Khas-Jogjakarta

Rangkaian wabah Covid19 sudah masuk dua bulan ini di Indonesia, khususnya Jogja yang menjadi pusat kreatifitas terbawa ikut larut dalam pandemi ini.

Counter-conternya Hendri Budiman di Alun-alun Indonesia Jakarta, Pasar Raya Sarinah Jakarta , Parkson Hartono Mall Jogja pun terimbas, dimana karya2 Hendri Budiman atau Hendri Mugi saapan akrab dari nama lengkap Dra. Hendriyatmi Mugirahayu kelahiran 1966 ini-pun harus berfikir keras agar karya harus terus lahir dan terpenting bagaimana roda ekonomi ini terus berputar.

Sejak mengikuti kegiatan di Nasional, terutama Muslim Fashion Festival 2020 yang sering diikutinya setiap tahunnya dan terakhir mengikuti program show di India 2018 yang diselenggarakan oleh Kedutaan Indonesia di India, semakin terpecut Hendri Mugi untuk terus menghasilkan karya2  yang identik dengan keberagaman identitas bangsa Indonesia, salah satunya adalah batik berpadan dengan lurik atau tenun.

Hendri-Budiman-Hadirkan-Maske- Fashion-Khas-Jogjakarta

Motif2 yang sangat identik dengan kekayaan alam dan tradisi Indonesia, dituangkan Hendri dalam keunikan batik yang akhirnya menjadi identitasnya berkarya, sebut saja dengan motif ayam dan motif-motif Flora yang menginspirasinya untuk membubuhkan di helai-helai batik sutranya yang indah, salah satu kesukaannya motif polkadot yang disukainya sejak kecil dan itu terbawa hingga saat ini untuk membubuhkan motif polkadot dibeberapa karya2 batiknya.

Kelahiran Salatiga yang tumbuh besar untuk meneruskan kuliah dan bekerja hingga menetap beberapa lama di Jakarta, tidak membuatnya aneh jika harus pulang pergi ke Jakarta saat ini.

Hendri bersama suaminya lebih memilih menetap di Jogja di sebuah kawasan village yang tentram dan asri, itulah yang memberinya gejolak, Jogja sebagai kota seniman dan dorongan lingkungannya membuat Hendri berlama lama dan memutuskan tinggal di Jogja, termasuk melahirkan karya-karyanya yang selama ini hanya sebuah mimpi saat Hendri pernah bekerja dibeberapa perusahaan fashion di jakarta, sebutsaja pernah bekerja sebagai assistent di butik BASSANYA Jakarta, Fashion Designer di Nazumi Butik Jakarta dan sebelum mendirikan 3 Ratu Batik di Jogja pernah juga mencoba membuka butik di Jakarta dengan nama QAILLA.

Jogja membuatnya jatuh cinta, karena pernah sesaat mengenyam pendidikan di Gadjah Mada dan itulah perjalanan yang tidak bisa lepas sampai saat ini.

COVID19, memang membuatnya dirumah saja, tapi sebetulnya sebelum COVID19 pun bekerja memang dari rumah saja, pekarangan yang asri tumbuh padi2 dan segala macam tanaman yang senantiasa menemaninya dengan ketentraman terus menginspirasi. Pendidikannya di smodia ( sekolah mode Indonesia ) 1990, Sekolah Susan Budiharjo 1995memberinya cambuk untuk melakukan sesuatu di kota Jogja.

Hendri-Budiman-Hadirkan-Maske- Fashion-Khas-Jogjakarta

Beras -Wutah salah satu motif yang cukup populer dikalangan perbatikan di Jogja, mengilhaminya disetiap karyanya ada motif ini, karena memang kesehariannya menatap padi dan bulir-bulir beras,

Kadang pergi kesawah demi membahagiakan para petani dan suaminya tercinta, termasuk terakhir ke sawah hanya membagikan masker2 bagi para petani ( photo masker ayam terlampir digunakan di sawah )

Sebagai anggota dan pengurus IFC Jogja yang aktif, kini didaulat sebagai Vice Chairman Bidang Organisasi, cukup menyita waktu, dimana hari2nya saat ini tetap memberikan motivasi pada kawan2 untuk tetap terus berkarya dan OBAH.

Masker di saat pandemi ini menjadi status sosial bagi pemiliknya, maka tak heran jika Hendri menjualnya begitu eksklusif, kliennya yang kebanyakan bertempat tinggal di Jakarta, masih terus memesan masker2 unik dan premium karya yang bercirikan Hendri Budiman ini. Salah satu karya yang baru adalah BUNGA dari salah satu seri  motif scarecrow, karena hobby lama kini hidup kembali yaitu berkebun…..maka jadilah ide bunga disetiap maskernya, diperuntukkan bagi wanita yang menyukai keindahan dan lingkungan yang indah dengan harapan, segera pandemi ini berlalu, sehingga saat musim semi tiba, wabah ini sudah berlalu, Hendri memahami dan meyakini, setiap ucapan adalah doa, demikinpun setiap karya yang lahir adalah harapan besar yang merupakan bagian doa dari yang membuatnya.

Penulis : Irwans

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here